Angka.
iyo:
Sebagai sekolah RSBI, SMA Negeri Lima Bandung baru-baru ini menetapkan standar kelulusan minimal terbaru yaitu Tujuh Puluh Lima. Mungkin bagi kalian semua yang hidupnya didedikasikan untuk membaca rumus fisika dibawah terangnya lampu belajar, hal ini bukanlah sebuah masalah yang harus diperbincangkan. Tapi saya merasa, saya masih punya kehidupan! Saya masih harus mengasah jutaan minat dan bakat saya yang lain, selain hanya berkutat dengan rumus yang itu-itu saja. Dan apa yang terjadi? Nilai saya hancur. Bersamaan dengan nilai teman-teman saya yang lainnya.
Tak lama kemudian berita yang sama saya dapatkan dari sekolah tetangga saya yang merupakan sekolah terbaik di Bandung, SMA Negeri Tiga. Menurut kabar yang saya dapatkan di Twitter, nasib dari murid-muridnya bahkan lebih buruk dari sekolah kami. Otak-otak tercemerlang, bakat-bakat terbaik, semuanya dipecundangi oleh deretan angka merah yang berujung pada hilangnya sebuah kepercayaan akan kemampuan diri sendiri. Setidaknya, itu yang saya baca di Twitter. Maafkan saya jika saya salah menganalisa kondisi kalian.
Semua rentetan kejadian tersebut membawa saya pada sebuah tanda tanya besar:Apakah kita semua sebagai manusia, makhluk tersempurna ciptaan Tuhan YME, layak diukur oleh angka semata?
Setiap pagi, disaat banyak orang masih tertidur, kita semua berlarian menembus udara dingin menusuk tulang, memasuki gerbang-gerbang, sebagai manusia yang haus akan ilmu, bukan? Kita semua menyimak patuh apa yang guru tulis di papan, apa yang mereka ketik di laptop, semua agar kita satu langkah lebih pintar. Agar ketika kita pulang, ada sesuatu yang kita pelajari dan kita pahami. Bahwa dunia terdiri dari atom, dan atom bukanlah roti yang bertabur choco-chip. Bahwa jika sebuah benda tergantung di katrol, maka tegangan tali benda tersebut adalah sekian.
Lalu kembali, otak yang diciptakan untuk bertanya ini mulai berputar. Untuk apa semua itu? Saya adalah manusia yang penuh cita-cita, dan sampai sejauh ini, saya sangat ingin berkarier di bidang politik. Jika nanti pekerjaan saya adalah membuat kebijakan negara, atau menghadiri konferensi, apakah relevan bagi saya untuk mempelajari tegangan tali?
Tapi baiklah, kita anggap semua anak Indonesia adalah keledai yang tak punya cita-cita. Anggaplah jurusan kuliah kita dapat berubah secepat mengedipkan kelopak mata. Sekarang, pertanyaan saya berubah. Bagaimana kita bisa menentukan?
Delapan belas pelajaran, dipadatkan dalam lima hari yang melelahkan. Ada hari dimana saya mendapatkan pelajaran eksakta, seni, olahraga, serta bahasa berturut-turut. Dari menghafal rumus fisika, menghafal huruf katakana, melukis, lalu tiger sprong. Bagaimana kita dapat berkonsentrasi pada satu hal yang setidaknya kita sukai? Atau lebih parahnya, bagaimana kita bisa menyukai satu pelajaran tertentu dalam situasi seperti ini?
Dan sebagai klimaks dari semua kelelahan dan kepusingan yang kita alami, di akhir tahun pelajaran, kita semua dihajar nilai-nilai merah karena berlaku setengah-setengah. Saya, contohnya. Tidak bisa tiger sprong, tidak hafal hiragana, suka menggambar (tapi selera gurunya agak sulit ditebak), dan tidak pandai menganalisa rumus fisika. Dalam satu hari, saya ditinju oleh empat buah kegagalan. Bagaimana bisa, sekolah mendorong kita untuk menjadi individu yang cemerlang, yang siap bersaing di era globalisasi, ketika kita TERPAKSA untuk menjadi setengah-setengah? Bagaimana kita bisa percaya dengan kemampuan yang harus kita kejar, jika setiap hari kita semua harus menyantap kegagalan?
Setelah jam-jam melelahkan menghafal, berkonsentrasi di bimbel, kehilangan waktu tidur, apa yang kita dapatkan, teman? Cacian, makian, serta paksaan. Paksaan untuk lebih keras lagi belajar. Lebih pandai lagi menghafal. Atau lebih lihai lagi mencontek?
Sampai akhirnya saya tiba pada sebuah kesimpulan yang sangat amat sederhana. Kita semua disekolahkan di sekolah-sekolah terbaik untuk mengejar nilai. Whatever it takes! Daripada menjadi tertinggal dan tidak naik kelas lalu ditampari orang tua, lebih baik tidak jujur saja kan?
Toh, ilmu tidak lagi penting rupanya. Yang penting cuma angka. Tujuh Puluh Enam tidak mengapa.
—
Saya kagum dengan manusia yang pertama kali menciptakan angka. Selain menjadi salah satu alat hitung tetap dan universal di dunia yang kita tempati ini, angka juga terkadang membelenggu pikiran dan kebebasan manusia. Angka membatasi kemampuan otak kita yang tak akan bisa terukur dengan deretan IQ atau besarnya volume kepala.
Saya lebih kagum lagi ketika angka kini telah menipu kita semua. Angka telah mengelompokkan kita semua menjadi orang-orang yang jenius, pintar, bodoh, atau imbisil. Angka telah menutup kesempatan kita semua. Angka menutup kesempatan seseorang yang saya kenal dekat untuk belajar alat musik lebih baik, untuk bermain sepak bola lebih lihai, untuk berdebat lebih cerdik, untuk berbicara bahasa lain dengan lebih fasih.
Angka membuat kita semua terjebak pada sebuah sistem yang sudah rusak. Sistem yang pada akhirnya akan menghasilkan ribuan orang-orang berkemeja rapi yang berdesak-desakkan memasuki ekspo lowongan kerja.
Dan kita semua akan kembali pada angka yang netral, berada di tengah tengah sumbu X dan Y. Nol. Nihil. Setelah kita semua melempar toga dan melewati euforia, kita akan terduduk diam di rumah dan memandangi ijazah kita yang bersinar dengan angka-angkanya. Ijazah yang dapat terbakar atau hanyut bersama banjir.
Sementara jika ijazah tersebut hilang, apa yang tersisa? Nol. Kosong. Nihil. Tidak ada lagi ilmu yang bersisa di kepala kita, karena semua yang kita kejar hanyalah angka, angka, dan
…angka.
—Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sajak Palsu - Agus R. Sarjono
—
P. S. Bebaskan dirimu dari belenggu angka-angka itu. Bermimpilah!